FARISIE

September 10, 2008

Membaca Kembali Perjalanan AD Pirous (1964 – 2003)

Filed under: PENDIDIKAN — farisie @ 5:16 pm

Membaca Kembali Perjalanan AD Pirous (1964 – 2003)

A.D. Pirous lahir di Meulaboh, Aceh 11 Maret 1932. Tahun 1964, A.D. Pirous berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Di tahun itu pula ia diangkat resmi sebagai tenaga pengajar tetap ITB, khususnya memberikan materi kuliah seni lukis, tipografi, dan kaligrafi. Delapan tahun kemudian A.D. Pirous menjadi salah seorang pendiri, ketua, dan dosen senior program studi Desain Komunikasi Visual. Tahun 1984, A.D. Pirous menjabat sebagai dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Walhasil, tiga puluh tahun sejak ia menjadi dosen tetap ITB, A.D. Pirous mencapai posisi tertinggi di dalam dunia akademik. Tanggal 11 Maret 2002, A.D. Pirous genap berusia 70 tahun, usia yang harus dinikmati sebagai masa pensiun, setelah nyaris selama 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia akademik.

Tanggal 11 Maret 2003, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, akan menyelenggarakan semacam acara pelepasan masa purna bakti A.D. Pirous dengan perhelatan pameran dan diskusi. Berkenaan dengan itu, telah disusun sebentuk narasi sebagai bingkai tema untuk mendasari acara tersebut, yakni Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003)

A.D. Pirous sebagai pengabdi dunia pendidikan akademik di dalam kampus ITB biasa saja mengalami masa akhir, namun sesungguhnya tiada istilah selesai baginya sebagai pendidik di luar dunia akademik. Di samping itu, A.D. Pirous adalah seorang muslim, seniman, budayawan, penggerak organisasi seni rupa, dan duta bangsa dalam pergaulan internasional.
Karenanya, dalam konteks Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003), posisi pembacaannya tidak akan terluput dari lingkaran besar kehidupan A.D. Pirous yang turut memberikan sumbangsih makna penting bagi ITB.

Dasar-dasar proses pembacaan tersebut berangkat dari berbagai unsur yang turut membangun A.D. Pirous sebagai pribadi manusia muslim, seniman, dan akademisi di dalam sekian komunitas. Sebagai muslim kelahiran Aceh di dalam koridor kesenimanan, A.D. Pirous telah melahirkan temuan-temuan, yang secara akademik dapat diketengahkan sebagai suatu bangunan pemikiran bagi seni rupa modern Indonesia yang bernafaskan Islam. Seni Lukis kaligrafi Arab (Islam) yang berhasil dicetuskan dan dikembangkan telah menjadi salah satu genre seni rupa modern di Indonesia. Demikian pula dengan kerangka dasar pendidikan desain komunikasi visual yang dicetuskan dan dikembangkannya, kini telah mekar menjadi bidang disiplin penekunan keahlian dan keprofesian yang memiliki dan dimiliki masyarakat luas di Indonesia.

Sebagai seorang budayawan A.D. Pirous tidak hanya berkutat di dalam proses pengembangan dunia seni rupa, namun melebar hingga menyentuh bagian-bagian yang mendasar menyangkut suatu rancang strategi kebudayaan. Hal ini diterapkannya dalam mengkonstruksikan sekaligus mengorganisasikan langkah-langkah promosi penghadiran dan pemahaman tentang kebudayaan Indonesia di forum-forum regional dan internasional. Karenanya, ia kerap ditugasi sebagai pimpinan delegasi dan duta bangsa, baik dalam kapasitas sebagai seniman, pengamat, budayawan, maupun kurator perhelatan seni rupa, seperti pada festival Istiqlal I dan II, Pameran seni rupa Asia, gerakan Negara-negara Non-Blok, dan Venice Biennal.

Berangkat dari berbagai halaman kitab perjalanan A.D. Pirous tersebut, secara tidak berlebihan materi pameran dan diskusi dalam kerangka pelepasan purnabaktinya ini, disajikan berupa jejak-jejak karya, dokumentasi, dan perbincangan di seputar isi halaman tersebut. Maka tersusunlah materi pameran, sebagai berikut:

Karya-karya Seni Lukis Kaligrafi Arab (Islam)
Materi pilihan karya-karya seni lukis kaligrafi Arab (Islam) merepresentasikan perjalanan penemuan dan pengembangan sejak tahun 1972 hingga 2003.

Karya-karya Seni Lukis Non-Kaligrafi
Materi pilihan karya-karya seni lukis non-kaligrafi dari tahun 1954 hingga 2003. Beberapa karya seni lukis non-kaligrafi A.D. Pirous sesungguhnya merupakan manifestasi bahasa rupa yang dibangun dari hasil pembacaan terhadap situasi dan kondisi keseharian, peristiwa social, politik, budaya, dan petikan-petikan hikayat serta ayat suci Al-Quran.

Karya-karya Tema Aceh
Materi tema Aceh nyaris seluruhnya menjadi bahan pameran

Karya-karya Seni Grafis
Materi pilihan dokumentasi foto kegiatan pribadi dan akademik, disertai dokumen-dokumen lain berbentuk album, portofolio, buku, dan katalog.

Pameran ini disajikan secara terbuka untuk masyarakat lingkungan di dalam dan luar kampus ITB, dengan harapan dapat membangkitkan sikap dan minat apresiasi serta keteladanan.

Soenarjo
Maman Noor

Agustus 5, 2008

seni

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 2:42 pm

Seni rupa Indonesia memang belum bisa dikatakan memiliki jati dirinya sendiri.Jika mau mengilas balik seni rupa nusantara, Perjalanan Seni Rupa Indonesia mengungkap fakta dari semula, nusantara memang tak memiliki seni rupanya yang otentik. Kebudayaan nusantara dipercaya tercipta lewat migrasi Yunnan dan bangsa Austronesia, sekitar 4000 tahun yang lalu. Saat itu seni pertama kali lahir, sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni menjadi semacam barang yang bermanfaat dijual atau digunakan dalam ritual keagamaan. Seni hasil para migran ini kemudian yang menjadi dasar kebudayaan di Indonesia. Penemuan arkeologi guci perunggu bermotif ganda; membuktikan pengaruhnya pada seni rupa motif parang rusak batik Jawa sekaligus motif tameng Papua.

Gelombang migrasi yang sama terus berulang secara berjangka. Seiring itu pula kebudayaan nusantara terus berkembang. Mulai dari migrasi Dong Son pada 500 SM yang mengenalkan kebudayaan perunggu, hingga masuknya Islam, yang menciptakan sosok punakawan di wayang Jawa.

Campur aduk gado-gado pengaruh aneka kebudayaan ini menghasilkan sosok seni rupa yang menyesatkan di Indonesia. Indonesia memiliki seni yang paling primitif sekaligus berdampingan dengan seni yang paling kontemporer. Saat seniman ”kubu” Bandung dan Yogyakarta telah mengenal pop art ala Andi Warhol, seniman Asmat masih setia menggunakan tiga warna alam dalam karyanya.

Renesans bertopik lokal

Seni rupa modern Indonesia sendiri bergerak campur aduk. Kusnadi dalam Seni Rupa Modern menyatakan, seniman-seniman Indonesia dibentuk melalui orientasi Timur sekaligus Barat, tanpa mengenal adanya batasan-batasan geografis, wilayah, bangsa bahkan zaman. Sejak dirintis oleh Raden Saleh, seni rupa modern Indonesia berjalan tanpa ”sengaja”. Sekaligus juga tanpa arah yang jelas. Raden Saleh menerapkan gaya melukis ala renesans, namun dengan topik-topik lokal. Hasilnya muncul dalam karya Harimau Minum, Bupati Majalengka atau Penangkapan Pangeran Diponegoro. Sejak awal idealisme seni rupa modern Indonesia belum terbentuk, dan sama seperti kondisi politik saat itu; terjajah seni rupa klasik Barat. Uniknya, seni klasik Barat saat itu menjadi landasan seni modern Indonesia. Carut marut semakin kencang, mengingat di saat bersamaan seni lukis Bali tetap berkembang dengan dunianya sendiri.

Masalah menjadi lebih kompleks sejak seni rupa Indonesia sendiri sebenarnya terbagi-bagi sesuai gejolak politik saat itu. Kusnadi dalam periode Revolusi Fisik Kemerdekaan mengelompokkan Affandi, Hendra, Sudarso, Trubus, Dullah dan kawan-kawan sebagai seniman pada era sebelum kemerdekaan. Karya mereka berbeda jauh dengan karya-karya seniman era 80-an, era 2000-an atau bahkan kembali pada karya seniman masa Hindia Belanda. Seni rupa Indonesia bukan hanya terbagi atas aliran-aliran ala Barat, namun juga terbagi atas periode-periode politik nusantara.

Ruwetnya identitas seni rupa Indonesia ini terus berlanjut bahkan di masa kontemporer. Seni rupa Indonesia menginduk ke Barat, tanpa melewati tahapan yang sama. Sebuah dunia seni rupa yang masih mencari identitas diri, bagaikan seorang remaja yang baru menginjak pubertas, mengekor identitas seni Barat yang telah rampung.

Salah satu bentuk rancu terjadi dalam pengertian surealisme di seni rupa Indonesia. Kurator Jim Supangkat sempat mengeluh, saat berhadapan dengan karya-karya mistis Indonesia. Surealisme nusantara masih mengawal soal kekuatan gaib atau mahluk-mahluk-mahluk mitologi yang bercampur pemahaman pribadi. Berbeda dengan surealisme Barat yang murni bermain dengan alam pikiran manusia.

Barat memiliki kerangkanya sendiri setelah melalui perjalanan yang panjang. Aliran Cobra misalnya, tak sembarang hadir dengan ide corat-coret di atas kanvas. Genre ini muncul sebagai bentuk frustasi para seniman Copenhagen, Brussel dan Ámsterdam pasca ekpresionisme.

seni rupa

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 2:40 pm

Seni rupa Indonesia memang belum bisa dikatakan memiliki jati dirinya sendiri.Jika mau mengilas balik seni rupa nusantara, Perjalanan Seni Rupa Indonesia mengungkap fakta dari semula, nusantara memang tak memiliki seni rupanya yang otentik. Kebudayaan nusantara dipercaya tercipta lewat migrasi Yunnan dan bangsa Austronesia, sekitar 4000 tahun yang lalu. Saat itu seni pertama kali lahir, sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni menjadi semacam barang yang bermanfaat dijual atau digunakan dalam ritual keagamaan. Seni hasil para migran ini kemudian yang menjadi dasar kebudayaan di Indonesia. Penemuan arkeologi guci perunggu bermotif ganda; membuktikan pengaruhnya pada seni rupa motif parang rusak batik Jawa sekaligus motif tameng Papua.

Gelombang migrasi yang sama terus berulang secara berjangka. Seiring itu pula kebudayaan nusantara terus berkembang. Mulai dari migrasi Dong Son pada 500 SM yang mengenalkan kebudayaan perunggu, hingga masuknya Islam, yang menciptakan sosok punakawan di wayang Jawa.

Campur aduk gado-gado pengaruh aneka kebudayaan ini menghasilkan sosok seni rupa yang menyesatkan di Indonesia. Indonesia memiliki seni yang paling primitif sekaligus berdampingan dengan seni yang paling kontemporer. Saat seniman ”kubu” Bandung dan Yogyakarta telah mengenal pop art ala Andi Warhol, seniman Asmat masih setia menggunakan tiga warna alam dalam karyanya.

Renesans bertopik lokal

Seni rupa modern Indonesia sendiri bergerak campur aduk. Kusnadi dalam Seni Rupa Modern menyatakan, seniman-seniman Indonesia dibentuk melalui orientasi Timur sekaligus Barat, tanpa mengenal adanya batasan-batasan geografis, wilayah, bangsa bahkan zaman. Sejak dirintis oleh Raden Saleh, seni rupa modern Indonesia berjalan tanpa ”sengaja”. Sekaligus juga tanpa arah yang jelas. Raden Saleh menerapkan gaya melukis ala renesans, namun dengan topik-topik lokal. Hasilnya muncul dalam karya Harimau Minum, Bupati Majalengka atau Penangkapan Pangeran Diponegoro. Sejak awal idealisme seni rupa modern Indonesia belum terbentuk, dan sama seperti kondisi politik saat itu; terjajah seni rupa klasik Barat. Uniknya, seni klasik Barat saat itu menjadi landasan seni modern Indonesia. Carut marut semakin kencang, mengingat di saat bersamaan seni lukis Bali tetap berkembang dengan dunianya sendiri.

Masalah menjadi lebih kompleks sejak seni rupa Indonesia sendiri sebenarnya terbagi-bagi sesuai gejolak politik saat itu. Kusnadi dalam periode Revolusi Fisik Kemerdekaan mengelompokkan Affandi, Hendra, Sudarso, Trubus, Dullah dan kawan-kawan sebagai seniman pada era sebelum kemerdekaan. Karya mereka berbeda jauh dengan karya-karya seniman era 80-an, era 2000-an atau bahkan kembali pada karya seniman masa Hindia Belanda. Seni rupa Indonesia bukan hanya terbagi atas aliran-aliran ala Barat, namun juga terbagi atas periode-periode politik nusantara.

Ruwetnya identitas seni rupa Indonesia ini terus berlanjut bahkan di masa kontemporer. Seni rupa Indonesia menginduk ke Barat, tanpa melewati tahapan yang sama. Sebuah dunia seni rupa yang masih mencari identitas diri, bagaikan seorang remaja yang baru menginjak pubertas, mengekor identitas seni Barat yang telah rampung.

Salah satu bentuk rancu terjadi dalam pengertian surealisme di seni rupa Indonesia. Kurator Jim Supangkat sempat mengeluh, saat berhadapan dengan karya-karya mistis Indonesia. Surealisme nusantara masih mengawal soal kekuatan gaib atau mahluk-mahluk-mahluk mitologi yang bercampur pemahaman pribadi. Berbeda dengan surealisme Barat yang murni bermain dengan alam pikiran manusia.

Barat memiliki kerangkanya sendiri setelah melalui perjalanan yang panjang. Aliran Cobra misalnya, tak sembarang hadir dengan ide corat-coret di atas kanvas. Genre ini muncul sebagai bentuk frustasi para seniman Copenhagen, Brussel dan Ámsterdam pasca ekpresionisme.

Juli 23, 2008

siraman rohani

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 3:27 am

Juni 4, 2008

Membaca Kembali Perjalanan AD Pirous (1964 – 2003)

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 1:08 pm

Membaca Kembali Perjalanan AD Pirous (1964 – 2003)

A.D. Pirous lahir di Meulaboh, Aceh 11 Maret 1932. Tahun 1964, A.D. Pirous berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Di tahun itu pula ia diangkat resmi sebagai tenaga pengajar tetap ITB, khususnya memberikan materi kuliah seni lukis, tipografi, dan kaligrafi. Delapan tahun kemudian A.D. Pirous menjadi salah seorang pendiri, ketua, dan dosen senior program studi Desain Komunikasi Visual. Tahun 1984, A.D. Pirous menjabat sebagai dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Walhasil, tiga puluh tahun sejak ia menjadi dosen tetap ITB, A.D. Pirous mencapai posisi tertinggi di dalam dunia akademik. Tanggal 11 Maret 2002, A.D. Pirous genap berusia 70 tahun, usia yang harus dinikmati sebagai masa pensiun, setelah nyaris selama 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia akademik.

Tanggal 11 Maret 2003, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, akan menyelenggarakan semacam acara pelepasan masa purna bakti A.D. Pirous dengan perhelatan pameran dan diskusi. Berkenaan dengan itu, telah disusun sebentuk narasi sebagai bingkai tema untuk mendasari acara tersebut, yakni Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003)

A.D. Pirous sebagai pengabdi dunia pendidikan akademik di dalam kampus ITB biasa saja mengalami masa akhir, namun sesungguhnya tiada istilah selesai baginya sebagai pendidik di luar dunia akademik. Di samping itu, A.D. Pirous adalah seorang muslim, seniman, budayawan, penggerak organisasi seni rupa, dan duta bangsa dalam pergaulan internasional.
Karenanya, dalam konteks Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003), posisi pembacaannya tidak akan terluput dari lingkaran besar kehidupan A.D. Pirous yang turut memberikan sumbangsih makna penting bagi ITB.

Dasar-dasar proses pembacaan tersebut berangkat dari berbagai unsur yang turut membangun A.D. Pirous sebagai pribadi manusia muslim, seniman, dan akademisi di dalam sekian komunitas. Sebagai muslim kelahiran Aceh di dalam koridor kesenimanan, A.D. Pirous telah melahirkan temuan-temuan, yang secara akademik dapat diketengahkan sebagai suatu bangunan pemikiran bagi seni rupa modern Indonesia yang bernafaskan Islam. Seni Lukis kaligrafi Arab (Islam) yang berhasil dicetuskan dan dikembangkan telah menjadi salah satu genre seni rupa modern di Indonesia. Demikian pula dengan kerangka dasar pendidikan desain komunikasi visual yang dicetuskan dan dikembangkannya, kini telah mekar menjadi bidang disiplin penekunan keahlian dan keprofesian yang memiliki dan dimiliki masyarakat luas di Indonesia.

Sebagai seorang budayawan A.D. Pirous tidak hanya berkutat di dalam proses pengembangan dunia seni rupa, namun melebar hingga menyentuh bagian-bagian yang mendasar menyangkut suatu rancang strategi kebudayaan. Hal ini diterapkannya dalam mengkonstruksikan sekaligus mengorganisasikan langkah-langkah promosi penghadiran dan pemahaman tentang kebudayaan Indonesia di forum-forum regional dan internasional. Karenanya, ia kerap ditugasi sebagai pimpinan delegasi dan duta bangsa, baik dalam kapasitas sebagai seniman, pengamat, budayawan, maupun kurator perhelatan seni rupa, seperti pada festival Istiqlal I dan II, Pameran seni rupa Asia, gerakan Negara-negara Non-Blok, dan Venice Biennal.

Berangkat dari berbagai halaman kitab perjalanan A.D. Pirous tersebut, secara tidak berlebihan materi pameran dan diskusi dalam kerangka pelepasan purnabaktinya ini, disajikan berupa jejak-jejak karya, dokumentasi, dan perbincangan di seputar isi halaman tersebut. Maka tersusunlah materi pameran, sebagai berikut:

Karya-karya Seni Lukis Kaligrafi Arab (Islam)
Materi pilihan karya-karya seni lukis kaligrafi Arab (Islam) merepresentasikan perjalanan penemuan dan pengembangan sejak tahun 1972 hingga 2003.

Karya-karya Seni Lukis Non-Kaligrafi
Materi pilihan karya-karya seni lukis non-kaligrafi dari tahun 1954 hingga 2003. Beberapa karya seni lukis non-kaligrafi A.D. Pirous sesungguhnya merupakan manifestasi bahasa rupa yang dibangun dari hasil pembacaan terhadap situasi dan kondisi keseharian, peristiwa social, politik, budaya, dan petikan-petikan hikayat serta ayat suci Al-Quran.

Karya-karya Tema Aceh
Materi tema Aceh nyaris seluruhnya menjadi bahan pameran

Karya-karya Seni Grafis
Materi pilihan dokumentasi foto kegiatan pribadi dan akademik, disertai dokumen-dokumen lain berbentuk album, portofolio, buku, dan katalog.

Pameran ini disajikan secara terbuka untuk masyarakat lingkungan di dalam dan luar kampus ITB, dengan harapan dapat membangkitkan sikap dan minat apresiasi serta keteladanan.

Soenarjo
Maman Noor

Mei 16, 2008

PRASEJARAH SENI RUPA MODERN INDONESIA

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 2:12 pm

eo Haks dan Guus Maris, Lexicon of Foreign Artists Who Visualized Indonesia 1600-1950 (Archipelago Press & Gert Jan Bestebreurtje, Singapore & Utrecht: 1995) 528 halaman.
KHAZANAH seni rupa Indonesia mengidap kekurangan mendasar: tak mempunyai kumpulan data dasar yang luas. Akibatnya banyak pembicaraan dan polemik cuma bertolak dari ancangan kira-kira: tak dilandasi pengetahuan sejarah seni rupa memadai. Para perupa juga terlalu gampang mengklaim “pembaruan”, seakan mereka tonggak nilai yang belum pernah ada sebelumnya.
Salah satu anggapan yang sering diulang-ulang sampai kini adalah bahwa seni rupa modern Indonesia tumbuh sejak Sudjojono dan kawan- kawan mendirikan Persagi di tahun 1938. Mereka bereaksi keras terhadap lukisan jenis Mooi Indie (Hindia Molek), yang cuma menampilkan alam dan manusia Hindia Belanda yang diindah-indahkan. Terhadap seni rupa bercorak kolonialistik-orientalistik ini, Persagi menampilkan prinsip dan karya yang mencerminkan ciri nasional.

***

MEMANG terlalu sedikit yang diketahui tentang “prasejarah” seni rupa modern Indonesia. Sesungguhnya, tak seluruh seni rupa di zaman Sudjojono bersifat Mooi Indie. Modernisme yang pahit pun berkembang di zaman itu. Modernisme adalah paham yang tak mengutamakan keindahan dan romantisisme dan juga, seperti yang dinyatakan Sudjojono, memperlihatkan jiwa penciptanya. Beberapa pelukis modernis penting yang berkiprah di Batavia di awal abad ini antara lain John Sten (Swedia), Alexander Kulesh (Rusia), dan Jan Toorop (Belanda).
Bahkan modernisme demikian diwadahi lembaga berwibawa seperti Bataviasche Kunstkring. Pameran tunggal Kulesh pada tahun 1937 diadakan di sana, sekalipun karyanya yang modernis itu (yang mencerminkan pengaruh konstruktivisme Rusia) tak diterima khalayak seni rupa Batavia. Di masa itu pula, surat kabar Jaya Bode bukan hanya mempunyai kritik seni rupa berwibawa, tapi juga menampilkan drawing modernis bermutu tinggi.
Berbagai data “aneh” semacam itu dapat ditemukan pada Lexicon yang berisi 3.000 nama perupa yang selama 1600-1950 berkarya tentang Indonesia. Menelusurinya dengan teliti, pembaca mendapatkan gambaran “prasejarah” seni rupa modern Indonesia, yang memang tak bermula dari titik nol. Maka bisa disimpulkan, misalnya, bahwa Persagi bukanlah satu-satunya kelompok modernis di alam penjajahan itu. Perannya lebih sebagai pemrakarsa nasionalisme kebudayaan.
Data dasar dengan 207 halaman khusus reproduksi hitam putih dan berwarna ini lahir dari kebutuhan yang sungguh-sungguh praktis. Dua orang pedagang seni Belanda, Leo Haks dan Guus Maris, memerlukan rujukan yang tepat mengenai pelbagai karya seni yang mereka lihat atau tangani. Menyadari buku semacam itu tak ada, mereka melakukan riset sendiri bertahun-tahun, dengan pelbagai cara.
Cakupannya luas: sejak seni rupa yang murni sampai yang berkait dengan kepentingan lain. Di sini pembaca dapat menemukan para ilmuwan penting seperti Rumphius (1628-1702) dan Junghuhn (1809-64), yang membuat sendiri ilustrasi untuk buku mereka. Juga beberapa perupa (dengan karya etsa, litografi, cat minyak) yang menggambarkan situasi di kota atau pedalaman pada awal kolonialisme Belanda.
Haks dan Maris memasukkan juga kartun satir sosial, sampul buku, gambar dinding, poster pariwisata, iklan tembakau, kalender, propaganda, desain prangko dan mata uang, serta sedikit patung. Juga gambar amatir yang dibikin oleh mereka yang ditahan di kamp Jepang selama 1942-1945. Rupanya banyak pelukis terkemuka di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 bekerja sebagai desainer dan ilustrator.
Keluasan cakupan itu menunjukkan “tradisi” seni rupa yang luas dan sinambung yang menyatu dengan kolonialisme dan orientalisme, tapi yang sebagian fasetnya berhasil meloloskan diri sebagai seni- sebagai-ekspresi.
Dalam hal ini penting dicatat kehadiran pelukis asal Belgia AAJ Payen (1792-1853), sahabat Raden Saleh. Ia menjelajahi Hindia Belanda dan berkarya untuk Komisi Ilmu-ilmu Alam. Jelas, lukisan- lukisannya seperti Sebuah Pasar Dekat Bogor dan Upacara Perkawinan, mengandung nilai obyektif (ilmiah), namun di lain pihak juga menggayakan kenyataan. Payen, bersama Raden Saleh, yang tumbuh dalam asuhan Romantisisme, tak pelak merupakan pengawal tradisi seni rupa tinggi (high art) di Hindia Belanda. Tradisi yang sebuah cabangnya kelak dikecam Sudjojono: Mooi Indie.
Tapi, Mooi Indie bukan aliran resmi. Di awal abad ini, Hindia Belanda juga menampung kaum modernis dari segala penjuru. Misalnya, Pieter Ouburg (Belanda), Miguel Covarrubias (Meksiko) dan Emil Nolde (Jerman); mereka ini perupa modernis terkemuka di negeri masing- masing. Juga si petualang berbakat besar, Walter Spies, yang tak puas dengan lingkungan seni avant-garde di Jerman, yang kemudian merangsang pertumbuhan seni rupa Bali. Bahkan Bataviasche Kunstkring juga menaja beberapa pelukis “realisme pahit” Belanda seperti Joanna de Bruijn, Frans Anchoni Cleton, dan Wolff-Schoemaker.

***

TENTU, buku tebal ini dihantui juga oleh nama-nama yang menjadi incaran kolektor: Le Mayeur, Willem Dooyewaard, Roland Strasser, Ernest Dezentje, WJF Imandt, misalnya. Tapi bukan hanya itu. Bahkan Rembrandt, Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin dan Karel Appel yang tak pernah berkunjung kemari, menghasilkan karya bertema Indonesia. Yang mencolok adalah karya Gauguin berjudul Annah Orang Jawa: seorang wanita telanjang, duduk di kursi, menghadap ke depan. Juga Appel, yang di tahun 1940-an melukis seri Darah Kampung untuk mengecam Aksi Militer Belanda.
Indeks Lexicon mestinya bukan hanya indeks nama artis yang ilustrasinya disertakan. Demi penelitian yang lebih luas dan mendalam, mestilah ada indeks yang meluas mencakup museum, lembaga seni, akademi seni, media, dan hal-ihwal lain yang erat bersangkutan dengan produksi dan penyebaran seni rupa. Agar kumpulan data dasar ini tak cuma berguna bagi kaum kolektor, pedagang seni dan pecinta buku-seni.
Layaklah buku ini menantang para peneliti seni rupa Indonesia membuat data dasar mutakhir yang lebih luas lagi, yang menyangkut kegiatan seni rupa dalam negeri maupun kaitan internasionalnya. Pekerjaan ilmiah ini tentulah awal dari penilaian seni rupa yang sehat. Hanya dengan begini barangkali, Indonesia bakal mengalami pluralisme sebenarnya, yakni banyaknya ragam seni rupa yang bersaing sehat. Bukankah dalam riuh-rendah seni rupa 10 tahun terakhir ini, yang terjadi cuma relativisme: sifat gampang-gampangan dalam menilai?

***

(Nirwan Dewanto, penulis dan ketua redaksi jurnal kebudayaan Kalam)

Kembali ke atas

ARTIKEL LAIN

reboisasi

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 2:07 pm

reboisasi1

biodata karya

judul : Reboisasi

media : akrilik di atas kanvas

ukuran : 150 x 130

tahun : 2008

konsep karya :

akibat pemanasan global yang terjadi di dunia ini termasuk di Indonesia, yang mengakibatkan hutan-hutan menjadi gundul ( ruang penghijauan ) yang berperan sebagai paru-paru dunia. Maka yang di butuhkan untuk saat ini yaitu penghijauan kembali.

April 17, 2008

SATE BATU

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 3:40 am
Tags:

SATE BATU

judul : Sate Batu

media: akrilik di atas kanvas

ukuran : 60 cmx 60 cm ( 3 Panel )

tahun : 2008

Maret 19, 2008

Halo dunia!

Filed under: Tak Berkategori — farisie @ 8:40 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.