FARISIE

patung

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kami pajatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulisan Proposal ini  dapat terwujud dan diselesaikan sebagaimana yang diharapkan.

Terselesainya proposal ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari rekan-rekan di Jurusan Seni Rupa,fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih. Mengingat keterbatasan kemampuan penulis,sangat disadari masih banyak kekurangannya, untuk menjadikan lebih sempurna diperlukan kritik, saran dan masukan dari pembaca, yang sempat meluangkan waktu untuk membaca, sebelunnya penulis mengucapkan banyak terimakasih.

 

Akhir kata, penulis berharap mudah-mudahan proposal ini bermanfaat bagi mahasiswa jurusan seni rupa dan pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Untuk memulai penulisan makalah ini terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang di sebut patung. Patung (seni Patung) adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya di buat dengan metode modelling (mengurangi bahan seperti memotong, menatah, dan lain-lain) atau aditif (membuat modelling terlebih dahulu, seperti mengecor dan mencetak dan lain-lain) (susanto, 2003)

Sudarso SP, (seni patung Indonesia) menguraikan dan menjelaskan bahwa seni patung Indonesia berasal dari seni patung zaman prasejarah,hal itu didasari oleh pengamatan pada  teknis, motif dan bentuk. Ciri-ciri patung prasejarah, pada perwujudan banyak berurusan pada corak menumental (neolitik). Begitu pula dari pengamatan Edi Sedyawati: cirri-cirinya desain sederhana, irama garis bersudut-sudut, sikap posenya kaku, kesan menumental. Patung prasejarah kurang berurusan dengna segi estetis, lebih menekankan pada simbolisme disamping terbatasnya teknis pengerjaan.Patung-patung jenis ini berkembang di saerah Kalimantan, Sulawesi,Toraja, Asmat, Lombok, Bali dan daerah lainnya. Patung Tadulako,Sulawesi Tengah, patung Mbis, Asmat Irian Jaya, patung Patoha, dayak Kalimatan, patung Pancaring Jagat, Bali.

Patung secara khusus menjadi bagian penting karya seni Indonesia. Kontemporer. Sejak awal peradaban para pematung telah bekerja dengan berbagai media. Yang membuat penjelajahan baru ini berbeda adalah kerangka konseptual.-nya. beberapa kecendrungan muncul dalam akademi seni. Salah satu yang paling penting adalah apa yang di istilahkan sebagai “bentuk hidup” dan “bentuk yang diperhitungkan” yang memperlihatkan semangat kuat kehidupan dan ketelitian perhitungan. Keinginan untuk ungkapan diri dan pengerjaan bahan dengan cara-cara baru paling kelihatan dalam karya para pematung seperti Sidharta, Dolorosa, Anusapati, Edith Ratna dan Rita Widhagdo.

Dunia seni rupa yang bertolak dari kerja individu, terus bergulir mencari sesuatu yang baru, yang berbeda di ruang publik, barulah mereka akan menerima “Nasib” yang tak pernah ia si Seniman maupun si karya bayangkan. Tentu saja banyak aspek yang akan menentukan ‘nasib’ si karya. Namun, pertama-tama kekuatan bentuk dan isi seni merupakan model utama. Baru kemudian aspek-aspek-aspek karya seperti kontekstualisasi, pembacaan dan meditasi, yang akan turut memperkukuh bergulirnya nasib : terperosok dan memuncak.

Seluruh bentuk produk karya seni rupa, akan mengalami mekanisme alamiah seperti itu. Artinya, jika dengan penuh nafsu pernah digulirkan prasangka tentang rekayasa pendongkarkan karya seni (dari aspek pasar), dan seolah-olah akan mendongkrak dunia seni rupa, itu hanyalah begar bigar. Peristiwa itu (Pendongkrakan) hanya akan berakibat bagi mereka yang bermain-main tanpa sikap kritis dan lengah membangun kekuatan posisi (Bargaining Position and Power). Praktek semacam itu tidak akan pernah membunuh kehidupan berkesenian. Akan tetapi sangat mungkin, banyak seniman terbunuh oleh praktek komodivikasi semacam itu, kekuatan kapital). Jika hal itu terjadi, memang, habislah otoritas sang seniman sebagai aktor utama pengubah karya kretif.

Dalam suasana Carut marut perkembangan itu, dunia seni Patung di Indonesia tidak (belum)? termasuk yang terkena goncangan serius. Perkembangannya dapat di sebut lamban. Era “Patung Monumental” (sejak 1960/1970-an hingga 1980-an) yang pernah demikian marak selama pemerintah orde baru sudah berakhir setelah itu situasi menjadi fakum. Baru pada sekitar 10 tahun terakhir (sekitar pertengahan 1990-an), muncul gejala timbulnya semangat berkreasi. Muncul sejumlah pematung muda, dengan berbagai corak dan gaya. Sejumlah pameran berupaya digelar ; dari pameran individu/ tunggal (yang sempat di selenggarakan), pameran kelompok (juga jarang), hingga pameran yang di selenggarakan oleh institusi seperti Taman Budaya Yogyakarta, sejumlah Galleri, atau Dewan Kesenian Jakarta dengan pameran Triennale Seni Patung Indonesia (yang kenyataanya, belum pernah benar-benar sebagai pameran tiga Tahunan yang terjaga konsistensi waktu penyelenggaraannya).

Mengapa kehidupan seni patung Indonesia terasa lamban dan lesu? Dan penyebabnya tak mudah di ketahui. Misalnya, antara lain, “tidak sederhana proses produksi” (baca : Sponsor, Kolektor, atau Pembeli), dan tidak adanya stimulasi yang merangsang, sebutlah seperti kompetisi berkala yang memberikan ‘hadiah layak dan penghargaan’ yang memadai bagi karya-karya terpilih. Sementara itu juga hampir tak ada Institusi yang mampu memfasilitasi untuk membangun jaringan, yang dapat terbuka kemungkinan berpartisipasi mengikuti peristiwa-peristiwa (pameran Symposium, Lokakarya, Residensi) di berbagai tempat dan level (Regional, Internasional). Memang ada juga sejumlah pematung yang berhasil lolos berpartisipasi dalam berbagai peristiwa internasional. Namun dapat di pastikan, mereka berupaya sendiri menembus ruang-ruang itu. Dan akhirnya hanya merekalah ( sedikit Pematung) yang kemudian  terus mengorbit dalam berbagai pristiwa.

Itulah deretan persoalan dan penyebab, yakni, “miskinnya eksplorasi material dan teknik “yang berakibat pada “lemahnya bentuk seni” dalam karya-karya seni patung di Indonesia. salah satu contohnya, terjadi stigma terhadap material Fiber ( Serat Resin ) yang di anggap murah (an). Agar karya patung menjadi Serius, bagus dan Mahal, apapun caranya harus menggunakan material prunggu (sebutlah Perunggu) di gunakan bukan atas pertimbangan keterkaitan dengan ide dan keharusan kebutuhan di tengah kebuntuhan itu, menarik kita eksplorasi material, teknik, dan bentuk, yang di lakukan oleh Anusapati (mengguanakan kayu apa saja, yang lunak maupun yang keras, atau bambu dan lain-lain) kemudian oleh Hedi Hariyanto, Komroden Horo yang mengolah benda/ Bentuk secara realistik, Ringan dan Santai ). Pintor Siroit (dengan Eksplorasi Patung-patung di dinding 2 Dimensi atau Relief), atau Ali Umar, juga oleh Khwan (dengan plat-plat besi temuan, atau Tembaga). mereka melakukan trobosan di kebuntuhan itu, dan memancarkan spirit segar dalam hal material, teknik, bentuk, tentu saja gagasan di baliknya.

Di sini penulis mencoba meneliti tentang kegiatan berkesenian Bpk. Tholib  Lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931. Alamat: Jl. Taman Erlangga V-16 Celep – Sidoarjo – Jawa Timur. Yang merupakan tokoh yang cukup mempunyai pengaruh bagi kegiatan kesenian di Jawa Timur Khususnya. Penulis tertarik untuk meliput beliau karena di samping dia menjadi seorang salah satu pengajar di Aksera (Akademi seni Rupa Surabaya) sampai sekarang. Dia juga menyempatkan diri mengelola sebuah sanggar Padepokan Akar Rumput.

BAB II

THOLIB PRASOJO PEMATUNG MONUMENTAL

 

Selain melukis wayang, sebetulnya membuat patung merupakan kemahirannya yang kali pertama dikuasainya. Itu karena kebiasaan membuat relief dari semen, dan ikut kerja bersama seniman lain dalam proyek-proyek membuat monumen. Sejumlah pengalaman bekerja dalam tim membuat patung yang melibatkannya antara lain berupa Patung Pahlawan Memegang Keris yang ada di Jalan Basuki Rahmat, patung Gubernur Suryo di depan gedung negara Grahadi dan patung Pahlawan Tak Dikenal di kompleks Museum Tugu Pahlawan Surabaya. Sedangkan patung yang merupakan karya tunggalnya antara lain: Patung Taruna Akabri Laut di Bumimoro Surabaya, patung Yos Sudarso, patung Commodor Mulyadi, Jendral Sudirman, Ki Hajar Dewantara, dan patung perunggu WR. Supratman di kompleks makam pahlawan pencipta lagu Indonesia Raya tersebut.

Soal patung, bukankah ada yang berpendapat bahwa membuat patung manusia itu haram hukumnya? Menurut Thalib, persoalannya bukan terletak pada patungnya, melainkan sikap manusia terhadap patung itu sendiri. Patung menjadi haram kalau kemudian disembah. Karena itu Thalib menolak dan tidak pernah membuat patung Yesus atau Budha misalnya, karena dia tahu pasti patung tersebut akan disembah. Meskipun, dia tetap menghormati orang yang memesan patung Budha padanya. “Tidak ada waktu,” seperti itu jawabnya, untuk tidak mengesankan sikap arogan sebagai orang Islam. Konteksnya sudah jauh berbeda dengan jaman Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala. Seharusnya, kata Thalib, yang harus ditentang adalah sikap menyembah selain Allah itu. Percuma saja menentang penyembahan patung kalau malah membiarkan orang menyembah teknologi, uang dan pangkat, bahkan kartu kredit pun disembah.

Maka patung yang dibuat Thalib adalah patung dalam konteks seni rupa. Bisa berupa patung semen, patung batu, perunggu, fiber, kayu (pahat), bahkan melebar membuat patung dengan bahan dari kertas koran, lilin dan juga pernah membuat patung dari bahan ubi kayu. Patung perunggu WR. Supratman yang dipajang di kompleks makam pencipta lagu Indonesia Raya itu, merupakan salah satu karya kebanggaannya.

PATUNG perunggu Wage Rudolf Soepratman kini berdiri kokoh di areal makam pencipta lagu Indonesia Raya itu. Kehadiran patung di makam yang terletak di Jalan Raya Kenjeran, Surabaya, itu tak sekadar mempercantik, tapi jauh memiliki ruh yang seolah menyatu dengan kehebatan sang komponis.

Kehadiran patung seberat tujuh kuintal itu senantiasa menyapa siapa pun yang melintasi makam sang komponis. Dengan biola yang bertengger di atas pundaknya, seolah ia selalu berusaha melantunkan lagu kebanggaan negara ini.

“Sebenarnya pemugaran makam WR Soepratman itu sudah dimulai tahun 1953, tapi baru rampung setelah lima puluh tahun,” kata Thalib Prosojo, salah seorang pembuat patung WR Soepratman kepada Kompas di Surabaya.

Pak Thalib, demikian sang perupa pematung kelahiran Bojonegoro, 17 Juni 1934 itu disapa, mengaku, pembuatan patung pencipta lagu Indonesia Raya itu dikerjakan bersama Surahman. Nama lengkap mitranya itu Surahman Kasan Suwari, pelukis yang juga pewaris dari keluarga almarhum komponis besar itu.

Untuk membuat patung perunggu tersebut, Thalib mengaku, memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Sebelum patung perunggu WR Soepratman yang sekarang ini bertengger di areal makam komponis tersebut, Thalib bersama Surahman pun mempersiapkan pelbagai keperluan untuk proses pembuatan, antara lain, cetakan dari bahan semen.

“Ancang-ancangnya bulan Maret 2002, tapi pelaksanaannya baru bulan Oktober,” katanya. Walaupun patung perunggu komponis besar negeri ini sudah berdiri kokoh dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, sang pematungnya sendiri mengaku belum terlampau puas.

Andaikan saja waktunya lebih lama lagi, hasil akhirnya pun jauh lebih baik lagi. “Kalau saja waktunya diperlama hingga enam bulan, tentunya hasilnya jauh akan lebih baik, tapi bukan berarti patung perunggu WR Soepratman itu tidak berkualitas,” katanya.

Patung WR Soepratman setinggi 2,5 meter ini rencana awalnya hanya sepotong tubuh dari kepala hingga batas dada. Namun, karena tidak memadai, lalu disepakati untuk membuat patung WR Soepratman secara utuh.

THALIB, yang sudah memiliki empat anak dan tujuh cucu, sekarang ini bermukim di Kompleks Perumahan Taman Airlangga, Sidoarjo. Sebelum membuat patung perunggu WR Soepratman, pernah pula membuat patung Komodor Yos Sudarso, Komodor Mulyadi, patung Taruna Akabri Laut, dan patung Duarapala.

“Patung perunggu WR Soepratman ini, karya kelima saya sebagai pematung,” katanya.

Selain itu, Thalib Prasojo yang juga dikenal sebagai perupa sketsa yang suka berburu obyek (peristiwa-peristiwa-Red), antara lain, tatkala ada pergelaran kesenian tradisi jaranan kepang, misalnya, di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), ia pun tampak serius memindahkan obyek di atas kertas dengan tinta.

“Tahun 1970, saya pernah membuat patung semen pahlawan arek Suroboyo membawa keris di pertigaan Jalan Basuki Rachmat dan Jalan Kombes Pol Duriyat,” katanya. Patung Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi pun bagian dari karya Thalib Prasojo.

“Sekitar tahun 1975, patung Gubernur Suryo itu saya buat pada era kepemimpinan Wali Kota Muhadji Wijaya,” tuturnya.

Sebagai perupa alumnus Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) angkatan pertama, tahun 1967, Thalib Prasojo menandaskan, seorang perupa jika ingin eksis, mau tidak mau harus memiliki kemampuan plus. Artinya, sebagai pelukis ia pun harus mempunyai pengetahuan lain pada bidang seni rupa lain, seperti patung, misalnya.

“Butuh satu dekade untuk seorang perupa, apakah selama kurun waktu itu karya-karyanya berkualitas, atau sebaliknya. Kalau, ndak mampu melahirkan karya-karya monumental, ya, habis sudah,” katanya.

Menyoal eksistensi perupa muda di Surabaya, Thalib Prasojo mengungkapkan, secara kuantitas cukup bagus, tetapi secara kualitas belum mampu mewakili zamannya. “Secara kuantitas, oke. Secara kualitas memang ada yang menonjol, tapi belum bisa mewakili zamannya,” ujarnya.

Berbeda dengan Aksera, perupanya pun lahir dengan kekuatan sendiri dan mampu mewakili zamannya, antaranya, Makhfoed, Dwijo Sukamto, Nuzurlis Koto, Thalib Prasojo, Nunung WS, yang sekarang ini bermukim di Jakarta, almarhum Utut Hartono.

“Untuk keramik, Nuzurlis Koto, Sketsa, ya, saya sendiri, drawing Su’ud dan Subono Sambowo,” ujarnya. Hedonisme itulah yang mempengaruhi perupa muda era sekarang ini, sehingga mereka pun lebih mementingkan kenikmatan. “Hedonisme mendahului penciptaan, sehingga karya mereka pun tidak berbobot,” tuturnya.

Sebagai sosok perupa generasi Aksera, Thalib tak pernah berhenti berproses dan bergulat untuk mempertahankan eksistensinya, termasuk merekam peristiwa-peristiwa aksi unjuk rasa dengan kekuatan sketsanya, terakhir memindahkan obyek aksi unjuk rasa reformasi di depan Gedung Grahadi.

“Jelas ada kebanggaan tersendiri bisa melibatkan diri membuat patung WR Soepratman yang milik nasional, dan paling tidak ikut nguruni monumen yang sifatnya nasional,” kata Thalib Prasojo.


Soal patung kayunya itu memang unik. Bahannya didapat dari bekas pangkal pohon, bekas bantalan rel kereta api, dan juga potongan sisa gelondongan kayu jati. Dengan bahan yang disebut terakhir itulah lantas diukir dengan huruf-huruf Jawa seperti kaligrafi. Isi kalimat-kalimat berhuruf Jawa inilah yang sarat dengan muatan ajaran hidup. Ada yang berupa kalimat singkat dan ringkas, namun ada yang berpanjang-panjang, misalnya: Kidung Sunan Kalijaga. Kalau pelukis M. Roeslan dikenal piawai mengungkap falsafah Jawa dalam lukisan kaligrafinya, maka seorang Thalib Prasojo membuat kaligrafi Jawa dalam bentuk ukiran di atas kayu. Terobosan seperti inilah yang langka.

Salah satu karyanya berupa relief kayu dua burung merak diberi judul “Wanita Ideal”. Ternyata bacaan aksara Jawa dalam ukiran itu berbunyi: Gandhes luwes merak ati. Cerdas, luwes, lembut hatinya. Ini memang gambaran ideal sosok wanita yang seharusnya dihadirkan. Wanita secantik apapun percuma saja kalau kepalanya kosong. Wanita seharusnya memiliki kepandaian, namun tetap luwes dan lebut hatinya sebagaimana kodratnya sebagai wanita. Bukan lantas mentang-mentang mengandalkan kepinterannya.

Ada lagi ukiran kayu yang dibingkai layaknya lukisan, berisi Kidung Sunan Kalijaga: Ana kidung rumekso ing wengi. Teguh ayu luputo ing lara. Luputo bilahi kabeh. Jin setan, datan purun, paneluhan, tan ana wani. Miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni temahan tirta, maling ngadoh. Tan purun mring mami tuju duduk pan sirna.

Terjemahan bebasnya: Ada kidung di malam hari, terhindar dari penyakit, terhindar pula dari musibah, jin dan setan tidak berani mengganggu. Tenung tidak ada yang mempan. Dan semua nafsu jahat, guna-guna meleset, api pun menjadi air, maling menjauh. Tidak berani ke sini. Semua niat jahat kembali musnah.

Sebuah ukiran lagi berjudul: Sabdo Pandito Ratu. Maksudnya, Sekali jadi. Orang yang punya posisi, jangan mencla-mencle kalau bicara. Ada yang berbunyi: Gusti Maha Suci (Subhanallah). Ada pula menghadirkan sosok Semar: Eling lan waspada. Tulisan di situ berbunyi:

Kun fayakun. Dadio sak ciptaningsun, kabul panuwun ingsun, kebak luber, lokak dijoki saking Allah.

Artinya: Jadilah, apa yang seharusnya terjadi. Yang saya cipta terjadilah, yang saya mohon terkabul, penuh, kurang sedikit digantikan dari Allah.

Ternyata, ini adalah sebuah doa gaib yang didapat Thalib dari laku, puasa, prihatin, ketika berada dalam perjalanan, malam-malam, kemudian terdengar bisikan tersebut. Doa gaib ini harus dibaca pada malam hari diluar rumah.

Memang tidak semuanya serba filosofis, ada karya ukiran yang berisi tulisan Jawa berbunyi: Kaya banyu karo iwak. Maksudnya, menggambarkan posisi antara majikan dan pembantu. Perbedaan diantara keduanya berada dalam posisi saling membutuhkan, saling melengkapi.

Karya ukiran lain berjudul Kalpataru, melukiskan gunungan. Maksudnya, gunungan itu ya Kalpataru, artinya pohon hayat. Nenek moyang sudah menasehati agar mencintai lingkungan hidup dan sesama makhluk. Filosofi gunung, maknanya digugu yen wis dunung (dituruti ucapannya sudah paham betul, memang pakar). Dalam gunungan wayang, ada rumah dekat dengan pohon, banteng, macan, dijaga dua raksana mahluk halus yang tidak boleh dihina. Semuanya itu bukan buatan pabrik, yang menciptakan sama dengan yang menciptakan manusia. Cuma kita yang suka menyelepekan, padahal semuanya, tanah, aingin, air, kayu berseru pada Alllah. Seru sekalian alam. Kita bisa berdoa atau mengaji tetapi tidak memahaminya dengan baik, malah bersikap menganiaya alam. Contohnya lumpur Lapindo karena manusia bersikap sewenang-wenang, tidak mencintai bumi, rakyat, tidak berpikir bgaimana dampaknya melakukan eksplorasi bumi. Yang dipikir hanya untungnya saja. Menyepelekan orang-orang Siring, Porong, yang berpikir mereka nantinya semua bisa dibeli. Akhirnya yang didapat bukan untung malah buntung.

Sebagai karya ukiran, memang akhirnya karya-karya ukiran kayu ini sulit dianggap sebagai patung. Karena kadang tampil sebagai karya dua dimensi. Apalagi ketika kemudian ukiran di atas belahan kayu itu dipajang dengan pigura, dan dicantelkan di dinding. Namun banyak karya ukiran lain yang cara penempatannya menjadi bermakna justru ketika diperlakukan seperti patung. Misalnya saja, lembaran kayu-kayu ukiran itu diposisikan berdiri sebagaimana patung pada umumnya.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: